Selasa, 28 Mei 2013

Buku Kosong dan Tinta Hitam


Sekarang semuanya terserah padamu saja. Kali ini aku mengikuti aturanmu. Marilah kita lihat masa depan kita masing-masing.
Mungkin aku terlalu bermimpi. Ya mimpi yang sangat tinggi. Tapi salahkah jika aku bermimpi?  Kurasa perasaan ini sudah cukup. Tetapi kenapa disaat seperti ini kau malah menghilang?  Ya menghilang bagaikan butiran debu yang tak terlihat.
 Perasaan ini…. Hhh… tak sanggup aku berkata banyak, hanya saja…  bingung aku bingung. Hal bodoh apa yang telah aku lakukan? Apakah aku bisa mati bila hidup tanpamu? Mungkinkah ini akhir dari segalanya? TIDAAAK! 

Mengetahui bahwa aku tidak pernah menjadi ‘siapa-siapa’ dalam hidupmu ….itu menyakitkan.
Haruskah aku memberitahumu tentang semua yang sedang kurasa saat ini? Kurasa tidak.
Apakah kau memikirkan hal yang sama seperti yang ku pikirkan? Kurasa tidak.
Sanggupkah kamu bila berada diposisi ku saat ini? Kurasa tidak dan akupun demikian.

Semua ini begitu menyakitkan. Kau tarik ulur perasaan ini. Kau goda diri ini. Dan pada akhirnya kau campakkan hati ini. Kau ucapkan padanya semua kata-kata yang pernah kau ucapkan padaku. Munafik!
Kau sebut ini yang namanya cinta? Apa itu cinta? Mungkinkah itu cinta?
Cinta itu ada untuk saling menerima bukan untuk menyakiti satu diantaranya.
Sudah cukup kau perlakukan aku seperti boneka, boneka yang selalu kau permainkan. Aku tahu, ini dunia. Bukan dongeng yang endingnya selalu bahagia. Tak bisakah kau menghargaiku sedikit? Sedikit saja.

Kau ciptakan keretakan-keretakan kecil pada hati ini. Dan perlahan mereka melebur, terhempas oleh udara yang bebas kesana kemari. Sempat aku berfikir, mampukah aku menjadi seperti udara? Bersikap netral, seolah tak tahu apa yang sedang terjadi. Ingin aku mencoba, mencoba terbangun dari mimpi ini. Melupakan buku kosong. Melupakan tinta hitam. Melupakan analogi logika yang selalu membuat diri ini bingung. Seolah tak tahu apa yang harus diperbuat.

Ada saatnya kau merasakan yang kurasakan. Ada saatnya kamu yang menangis, kedinginan dalam pengabaian, dan berujung pada sakit hati.

Kau tahu ‘bukan-siapa-siapa’.

Tidak ada komentar: